Langsung ke konten utama

Postingan

Half Failed Escape: Coban Jahe

Semacam prolog. Once upon an evening, pikiran ini rasanya sumpek gak ketulungan .  Ingin marah, melampiaskan segala sesak. Namun apa dayaku yang hanya sendiri tanpa korban untuk dimarahi. Ingin ku pergi barang sehari, meninggalkan hingar bingar dan kefanaan duniawi. (Waktu nulis kebayang-bayang Mbak BCL, " Ingin ku marah melampiaskan, tapi ku hanyalah sendiri di sini .")   Aktivitas warga: panen bengkuang. Saking suntuknya, aku berniat (dengan tekad kuat tapi gak cukup kuat) escape. Kabur dari rutinitas. Mendekat pada hijaunya alam. Curhat pada Sang Pencipta Alam. Berhubung tidak menemukan destinasi yang mendukung, muncul hasrat kuat untuk mendaki Gunung (Bukit) Panderman. Kalau niat escape gausah nanggung-nanggung. Mau berduaan sama alam, sekalian aja muncak . Dengan track dan jalur yang pendek, Panderman adalah puncak yang aman untuk dijajaki seorang diri.  Tak lupa mengenang makhluk kecil yang numpang hidup, sama seperti kita, manusia-manusia. ...

Penjelajahan Vietnam Rose. Part 4: Self Guidance

Itu selembar peta yang saya dapat. Nah yang di pojok itu lembar jawaban ujian yang satu lembarnya segede buku gambar (A3). Nilainya memang memalukan, tapi bukankah angka tersebut tak sebanding dengan pelajaran hidup dari pengalaman? Minggu, 6 Maret 2016, kami berencana menghabiskan waktu seharian untuk berjalan-jalan. Setelah mempelajari peta dan mendapat rekomendasi dari kawan setempat, kami memutuskan untuk mengunjungi tiga tempat penting, di antaranya Temple of Literature , St. Joseph Cathedral, dan  Hoàn Kiếm Lake . Sebenarnya, kami juga menjadwalkan untuk mengunjungi masjid di pusat kota. Akan tetapi, berhubung waktu dan akses transportasi kurang memungkinkan, kami membatalkan kunjungan penting tersebut. Yang membuat iri, para kawan lelaki akhirnya berhasil mengunjungi masjid untuk Ibadah Shalat Jum'at. Menurut cerita, mereka juga menemukan kedai makanan halal di dekat masjid. Tengoklah jalanan yang kami lalui, tempat-tempat yang kami kunjungi, berikut ko...

Penjelajahan Vietnam Rose. Part 3: We are Mathematicians

Say, "See you next chance, mathematicians!" Senin pagi, 29 Febuari 2016.  Aku bersiap menyambut hari seperti siswa baru yang digandeng ibunya di hari pertama bersekolah. Too excited. Ternyata di Lantai 6 Guest House kami, tinggal seorang kawan istimewa dari Cambodia (biasa kita dengar Kamboja). As your information , kami tinggal di Defense Academy's Guest House . Defense Academy adalah sebuah sekolah tinggi kemiliteran di Hanoi. Menempati penginapan milik Defense Academy membuat kami berpapasan dengan 'tentara' penjaga setiap pagi. Berbeda dengan perawakan para tentara di Indonesia yang 'tajam', tentara-tentara Vietnam yang kami temui cenderung lebih 'halus'. Penampilan mereka cenderung putih bersih dan tidak dempal. Demi melihat kami yang berpenampilan berbeda (mengenakan hijab), tak segan satu atau dua di antara mereka menyempatkan diri untuk tersenyum dan menyapa, meskipun sedang bertugas. Sayangnya, terdapat larangan memotret di are...

Cinta Dua Rembulan

Malam ini rembulan bersembunyi di balik awan jingga. Aku mengulang serpihan-serpihan memori masa lalu, gusar meresapi setiap kemelut yang pada akhirnya kurang bermakna. “Jangan kembali!” Sentakan itu terasa jelas dalam satu bagian ingatanku. Jelas sejelas tetesan embun pada ilalang yang dingin menggores mata kaki waktu aku pulang tadi. Sengaja tak kukenakan kaos kaki seperti biasa karena kupikir serangan nyamuk dan sayatan angin malam bisa membantuku menyamarkan reaksi saat kau menegurku seperti dua malam lalu. Aku mengulang serpihan-serpihan memori masa lalu. Perlu kau tahu, masa lalu itu adalah malam tadi dan dua malam lampau. “Kau tak harus memasuki pintu ini. Bahkan kau tak boleh memaksaku membuka kuncinya. Aku pun telah berjanji untuk menutupnya darimu.” “Terimakasih. Terimakasih telah mengantarku kembali.” Sayang, dia tak mendengar terimakasihku. Belum sempat aku mencerna kata-kata yang dia lontarkan saat kami sampai di gerbang rumah, dia sudah melesat...

Bonek Hikers. Part 4: Akhir Cerita Kita

The most favourite spot. Couldn't find a more beautiful yellow flowery field.... Setelah pikiran yang blingsatan ke mana-mana. Setelah keresahan yang mengubun-ubun. Selepas keputusasaan yang nyaris memuncak. PADANG SAVANA....... " Subhanallah......" "Allahu Akbar!" Kami semua jatuh terduduk. Sungguh luar biasa. Rasanya seperti surgaaaaa. Sekitar satu jam sebelum tengah malam kami sampai di padang luas tempat bermalam. Kami duduk sejenak, ingin bergulung-gulung di sana. Di padang inilah para pendaki biasa bermalam. Untuk menuju puncak, perjalanan hanya tinggal satu jam lagi. "Ayo semangat. Tambah sedikit lagi jalannya, kita mendekat ke tenda-tenda lain."  kami pun beranjak. Para calon tetangga membantu mendirikan tenda. Tanpa mengkhawatirkan makan malam, kami langsung menata diri untuk shalat dan beristirahat. Say Hi! Coming back home "Yang mau muncak ntar bangun jam tiga yaaa..."  beberapa memili...

Penjelajahan Vietnam Rose. Part 2: Hoan Nghênh!

29 Februari 2016. Clap...clap...clap Grrrrrtrrrrtt.... Andai dalam film, adegan pertama ini menampakkan seseorang sedang berjalan di sela-sela keramaian bandara. Lensa kamera mengikuti dua bilah celana panjang bersepatu dan sekotak koper yang terseret-seret. Adegan diakhiri dengan duduknya pemilik celana dan sepatu tadi sehingga penonton bisa melihat sosoknya, dari belakang. Kemudian fokus kamera beralih pada segerombol kecil pemuda tak jauh di depan sosok tadi.

Jernih dan Hitam antara Kabut dan Merah Jambu #2-tamat

Semalam, aku tertidur di awan kelabu. Aku terus berpikir bagaimana jika aku terjatuh padahal aku ingin melihat pelangi. Lalu degup jantungku mengatakan sesuatu. “Tenang gadisku. Kalau kau terjatuh, kau akan terjatuh bersama-sama.”  Benar juga. Sama sekali tak masalah buatku. Tapi aku takut. Bagaimana jika aku terjatuh sebelum sempat menyentuhnya? Bagaimana? Kabut perlahan menipis. Kilau perlahan bercahaya. Apakah ini serangan fajar? Namun warna merah jambu belum memudar. Aku benar-benar tak tahu yang akan terjadi. Aku tak mampu berangan-angan lagi. Tapi kabut perlahan menipis. Aku harus segera bergerak kecuali ingin dihempas angin jahat. Aku mencoba mencari celah.