Langsung ke konten utama

Postingan

Bandung Story. Part 2.1: Menjelajahi Taman Hutan Raya Djuanda, "Tenang, Nggak Ada yang Serem Kok!"

Kawasan Tahura Selasa, 25 Desember 2018, tulisan ini masih termasuk dalam rangkaian cerita sebelumnya tentang kawah putih. Hari itu saya tidak menyangka hanya bisa mengunjungi satu destinasi saja. Toh rute plesirannya hanya di dalam kota, saya pikir bisalah mengunjungi tiga hingga empat lokasi. Ternyata tidak. Tadi malam sejak sampai di penginapan, perasaan saya sedikit asam tanpa alasan. Ibarat sinyal radio, suara yang dihasilkan itu ' kresek-kresek'. Perasaan itu membuat pagi saya  mager alias malas gerak. Pengennya pagi terus, nggak gerak ke siang. Pengennya juga di kasur terus, gak mau mandi. Dengan sedikit usaha untuk bergerak, bangkitlah raga ini menuju kamar mandi yang airnya sangat dingin. Melalui sedikit diskusi tentang ke mana liburan hari ini akan dibawa, saya dan kawan saya memutuskan untuk mengunjungi pinggiran kota. Dari google maps andalan, saya menemukan Gua Belanda dan Gua Jepang tak jauh dari Taman Hutan Raya Djuanda. Fokus sama papan penun...

Bandung Story, Part 1: Pesona Kawah Putih dengan Atmosfernya yang Menyesakkan Dada

Kawah berkabut "Libur t’lah tiba. Libur t’lah tiba. Hore! Hore! Hore! Lepaskan tas dan bukumu. Buanglah keluh kesahmu. Libur t’lah tiba, hatiku gembiraaaa!" Yep , cuplikan lagu Tasya Kamila semasa cilik itu menghiasi batin saya menghadapi libur semester. Ya yang namanya tentor, kalau siswanya libur tentornya juga ikut libur dong yaaa. Untuk mengawali libur semester sekaligus libur natal dan tahun baru, saya mengambil kesempatan untuk pergi ke Bandung bersama rekan-rekan kerja. Tepat tujuh hari waktu yang saya habiskan untuk berlibur, termasuk waktu perjalanan. Awalnya, saya pergi berlibur bersama tiga rekan kerja dari Surabaya. Setelah tiga hari, mereka pulang dan saya melanjutkan liburan bersama seorang teman semasa kuliah. Kali ini saya akan menceritakan cuplikan terakhir dari liburan saya di Bandung. Bersama kawan kuliah yang dini hari tiba di Bandung dan sempat saya telantarkan karena ketiduran ( hehe maaf ya ), saya mengunjungi dua destinasi penting.   ...

Suka Duka Meninggalkan Vietnam, Sukacita Memasuki Singapura

Lobi Bandara Chang I, Singapura Menghabiskan 38 jam dalam dua malam di Saigon City membuatku puas saat harus meninggalkan kota ini. Selasa pagi, aku memesan taksi online untuk mencapai bandara. Berbeda dengan dua hari sebelumnya saat aku mbambong di bandara Noi Bai karena check in counter belum dibuka saat aku tiba, kali ini aku tiba sangat ngepres . Pukul tujuh loket dibuka, pukul tujuh pula aku tiba. Sungguh sial, antrean loket Scoot Airlines menuju Singapura sudah mengular sampai menutupi lorong. Empat loket yang tersedia dipenuhi oleh satu rombongan berbusana biksu. Wah.... semacam rombongan " umroh "nya umat Buddha ini. Sialnya yang paling sial, aku mengambil antrean di belakang rombongan ini. Meski sebenarnya tidak panjang, hampir dua jam aku tidak bergerak. Astaghfirullah......this is shit! Ini entah petugasnya yang lemot atau akunya yang bego , hingga waktu boarding tiba aku masih ngantri check in . Alhasil, aku tidak punya kesempatan untuk menghitung sisa-si...

~Senandung Sepi~

             Terkadang...              saat sunyi tak lega menghasilkan              dia hanya mampu mengalun perlahan. Sore belum beranjak petang. Burung-burung pun belum kembali dari pertarungannya. Belum apa-apa aku sudah merasa kesepian. Seperti sudah kaupahami, sulit bagiku untuk pergi terlebih dahulu. Jika ditinggalkan, aku masih punya harapan dia akan menengok ke belakang. Namun saat aku yang jauh di depan, aku tak tahu bagaimana caraku melihatnya kembali.              Terkadang...              saat dingin menusuk tajam              helai pelindung justru tanpa bimbang ditanggalkan. Dahulu, aku pernah be...

Backpacking ke Saigon City. Day 2.2: New Places + New Friends = New Experiences

Masih 19 Maret 2018.... Belum beranjak dari War Remnant Museum, aku menyelesaikan penjelajahanku ke setiap sudut ruangan. Yang kucari sebenarnya adalah bagian penjara. Aku hampir putus asa ketika semua lantai telah terjamah dan belum sampai juga di replika penjaranya. Jangan-jangan sudah ditutup karena terlalu seram . Ternyata, bagian ini terletak di paling pojok di luar gedung. Aku melangkah dengan hati-hati karena cukup ndredeg . Seperti apa isinya? Tengok di galeri foto saja ya... Saya akan menceritakan langsung dari kenampakan fotonya. To sum up , bagiku replika sistem penjara ini lebih seram ketimbang rumah hantu Jatim Park (atau rumah hantu-rumah hantu lainnya) yang pernah saya masuki semasa SD dulu. Terasa lebih nyata.... Tengok di sini galeri fotonya.... __________ Seperti rencana awal, aku harus mencoba Saigon Waterbus mengarungi Sungai Saigon. Siang itu, tak ada orang yang terlihat di area terminal bus air. Teriknya matahari dan aroma air payau menambah panas c...

Backpacking ke Saigon City. Day 2.1: Getting Closer with Histories

Senin, 19 Maret 2018 Hari kedua ini diawali dengan perut munek-munek beserta kegalauan hakiki. Tadi malam aku kalap oleh Saigon Halal Food dan memesan makan berat untuk sarapan. Aku lupa bahwa aku mendapat jatah sarapan dari hostel. Ditambah lagi, lambungku masih penuh oleh makanan semalam. Ya Tuhaaaan ampuni hamba, makanan ini mubadzir. Sementara itu, aku juga mengalami kegalauan luar biasa. Sampai larut aku menimbang-nimbang akan mengunjungi Cu Chi Tunnel atau tidak. Sialnya lagi, aku terserang insomnia, suatu hal yang tak pernah kualami sebelumnya. Padahal aku sangat lelah dan ingin segera tidur. Tempat tidurku pun nyaman. Akan tetapi, mataku tak kunjung mau memejam dan nafasku terasa tak tenang. Hingga dini hari, aku masih krusak-krusuk di atas bantal. Untuk mencapai Terowongan Cu Chi, pilihan paling efektif adalah bergabung dengan rombongan tur karena letaknya yang cukup jauh dari Distrik 1. Selain bisa ditempuh dalam waktu singkat, tur juga akan mengajak romb...