Langsung ke konten utama

Bonek Hikers. Part 2: Masih Semangat


Sebelumnya, kami sempat berunding.

"Ayo, mas, mbak, barengan."

Akhirnya, kami bergabung dengan ketiga orang itu. Ternyata, tujuan mereka adalah puncak Panderman, bukan puncak Butak. Sampai di persimpangan, kami kembali harus memutuskan.

"Ya udah, yuk lanjut sendiri aja."

Keputusan kami tidak berubah. Rencana awal harus sukses dieksekusi. Dengan mengucap Bismillah kami berpisah dengan rombongan tadi dan langsung melanjutkan perjalanan.

"Ada petunjuk jalannya kok."
ujar pemimpin barisan. Syukurlah, sepanjang jalur banyak tanda-tanda berupa pita yang diikat di pepohonan atau ranting-ranting.
Beautiful scenery, isn't it?

Selama kurang-lebih 5 jam pendakian, kami sampai di ruang yang agak lapang. Ada satu tenda berdiri di sana. Ada juga beberapa rombongan lain yang singgah. Di tempat itu pula kami menggelar tikar, mencari sisa-sisa air hujan di sela dedaunan untuk berwudhu, lalu shalat dan makan siang. Sampai di sini, belum ada track yang terlalu istimewa. Jalan bebatuan, reruntuhan pohon tumbang, lorong di antara hutan-hutan, lalu guyuran hujan tepat di jalur yang paling curam. Biasa bukan?

Ada satu kesulitan yang teman kami alami. Saat hujan deras di tanjakan super curam itu, satu kawan kami harus mendaki dengan ransel di punggung plus tenda yang dicangklong di depan tubuhnya, ditambah lagi dengan jas hujan model ponco atau kelelawar yang tentu amat menyulitkan. Dengan keadaan seperti itu, dia tidak bisa merangkak. Jas hujan yang nglengsreh pun sangat berpotensi untuk nyrimpet. Aku cukup merasa bersalah dan takut karena meminjamkan jas hujan itu, tapi kondisi ini pun tidak memungkinkan kami untuk bertukar jas. Apa daya pula, tak ada yang sanggup menggantikan beban akhwat tangguh yang satu ini. Beruntung, pendaki lain yang sedang turun memberi jalan dan membantu kami menanjak.
Tiga wanita pejuang
Masih biasa. Kami masih menikmati perjalanan ini tanpa beban. Kami masih bisa makan siang dengan riang. (Jadi ceritanya kami sama-sama bawa nasi bungkus buat makan siang pertama. Eh ternyata yang cowok-cowok malah sempat masak bareng. Malah, makanan mereka disatuin di satu kotak makan, terus suap-suapan deh. Hmmmmm.... so suwitnyaaaa.....)

Lalu tiba-tiba...... ada yang menyapa....

"Anak mat ya mbak?"
"Lho, kok tau mas?"  jawab salah seorang dari kami.

"Ya iyalah, plis deh. Jaket mu itu lhoooo bawa identitas banget!"  ujar salah seorang dari kami yang lain.

"Oh iyaaa. Hahaha."

Jadi, empat dari kami tengah mengenakan jaket almamater matematika Universitas Brawijaya. Lambang dan tulisannya terpampang jelas untuk dikenali. (Sebenarnya meski tulisannya ketutupan pun, kalo diliat sama anak sekitar mat UB, pasti udah ketauan banget deh kalo kita anak mat. Haha)

Lalu mulailah bullyan-bullyan kecil di antara kami.

"Eh dasar lu. Ngapain juga ke gunung masih bawa identitas. Keliatan banget tau!"
 
"Iya nih. Segitu bangganya ya sama almamater.. Atau gak punya jaket lain?"

"Nah kamu juga, ngapain nyama-nyamain gitu?!! Cie.... kita couple-an nih..."

"Ih nggak ada niat ya. Ini mah sekalian kotor aja, mumpung ni jaket yang udah di luar lemari."

"Iya eh sama. Sekalian kotor sekalian dicuci. Apalagi ini yang kedap air juga."

Hahahaha. Dhuaaar!

"Saya anak fisika mbak."
  mas-mas tadi menimpali.

"Oooooooh, pantesaaaaaan."  kami jadi bersahut-sahutan. Dhuar lagi.

"Angkatan berapa mas? Serombongan fisika semua? Berapa orang?......."  bla...bla...bla... dst dst. Basa-basi berlanjut sampai rombongan mas itu berangkat duluan. 

Nyamm...nyamm....
(Nah, yang hitam-kuning itu jaket jurusan mat. Dan yang merah marun--termasuk yang cuma keliatan tangannya--itu jaket prodi mat '13. Salam kenal...)



Tap tap tap. Kami sungguh tak banyak bicara saat berjalan. Tidak juga heboh oleh pemandangan. Semua itu karena para amatir itu membutuhkan tenaga dan konsentrasi berlebih dibanding pendaki-pendaki pada umumnya. Pembicaraan kami selalu sebatas "Awas kayu", "Awas batu", "Mepet kiri yaa", atau "Jam berapa Di? (karena yang mengenakan jam tangan adalah yang dipanggil 'Di' ini)".

Di suatu titik koordinat, kami bertemu empat orang fisikawan tadi. Mereka sedang santai menyantap bekal makan siang.

"Lho... masnya lagi. Duluan ya mas...."  sapa kami.

Padahal, tak lama lagi mereka akan menyalip rombongan kami.

Ayo jalan, masih jauh!
 
Terus ini si akhwat tangguh sama ikhwan tegar
















Sraaaap. (Kalo di adegan film ini scenenya matahari turun di fast-forward, burung-burung berkicauan pulang ke rumah, aliran air muara mulai tenang, terus gelap).

"Udah maghrib ni ya. Isya nyampe nggak ya?"
Kata orang, pendakian normal biasa menempuh waktu tujuh sampai delapan jam. Perkiraanku, kami bisa sampai di padang savana--tempat nge-camp--dalam waktu sepuluh jam. Sehingga jika kami berangkat mendaki pukul 9 pagi, kami akan sampai pukul 7 malam atau setidaknya pukul 8. Gelap kian pekat saat langkah semakin terseok-seok. Jauh dari pukul 7, kami mencari penghiburan masing-masing untuk menenangkan diri. Tak ada tanda-tanda kehidupan selain pohon yang menjulang-julang. Aaah... jangankan puncak atau padang savana. Tanah lapang barang sejengkal pun rasanya bahagia. Aku rasa kami telah sampai di pos yang paling membahana. Aku menyebutnya Pos Frustasi.


________

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Two Days Escape: Menggulung Ombak Tanpa Jiwa. Part 2.

Full team?? H ujan deras mengguyur tanpa ampun. Basah, dingin, dan gelap menaungi perjalanan kami. Beruntung, tak jauh sebelum deras kami menemukan sebuah kios — entah bengkel atau apa — untuk berteduh. Meski masih gelap gulita, setidaknya kami tidak basah. Setelah dirasa mereda, kami memulai perjalanan lagi. Hingga tiba di suatu pertigaan, kami belok kiri. Dari sisi sebelah kiri pertigaan itu, kami mendengar seruan. " Hooooooy!!!! " kawanku membalikkan kemudi, kembali ke pinggir pertigaan itu..... _________ Bergotong royong menyiapkan hidangan " Looooooohhh kaliaaaaan....... " seruku. " Banku bocooor, udah dua kali. Makanya nambal disini." kata salah seorang dari rombongan kami. Alhamdulillaaaah.... sudah kumpul rame-rame lagi. Setelah urusan pengebanan selesai, kami segera meluncur. Sesampainya di tujuan..... Hosh.....Hosh..... Gak mau kalah nih, mau ikut masak jugaa Inilah Pantai Sendiki, tempat kami berpiknik satu malam...

Dermaga (Bukan) Saksi Bisu

Menghadap ke barat: Pegunungan anggun terlihat seperti mengelilingi selat Desember 2016 agaknya menjadi bulan yang sarat pengalaman baru. Dikejar-kejar deadline seminar hasil, kabur nge- camp saat harus menyerahkan berkas skripsi, ditinggal ortu beribadah di belahan dunia lain, dan membelah diri antara menemani adik (yang meskipun bukan lagi anak-anak, tetapi tidak pernah ditinggal pergi), mengejar dan dikejar deadline , hasrat ingin bersih-bersih rumah, serta main-main yang tidak penting. Hanya dua atau tiga hari aku sempat berada di rumah. Menyedihkan, tapi ya mau bagaimana lagi. Dalam seminggu aku harus ada di rumah, di kampus, dan terakhir tak kuasa menolak ajakan kemping (yang hampir membawa pada bencana) Panas: Di tengah hari, surya di atas tanah Situbondo terasa seperti oven yang memanggang Hai: Kenalan dulu ya, waktu saya pasang foto berdua di sini (fotonya yang berdua, bukan yang ini), teman-teman sekelas pada heboh. Dikira siapa, kok berani-beraninya pake...

~Senandung Sepi~

             Terkadang...              saat sunyi tak lega menghasilkan              dia hanya mampu mengalun perlahan. Sore belum beranjak petang. Burung-burung pun belum kembali dari pertarungannya. Belum apa-apa aku sudah merasa kesepian. Seperti sudah kaupahami, sulit bagiku untuk pergi terlebih dahulu. Jika ditinggalkan, aku masih punya harapan dia akan menengok ke belakang. Namun saat aku yang jauh di depan, aku tak tahu bagaimana caraku melihatnya kembali.              Terkadang...              saat dingin menusuk tajam              helai pelindung justru tanpa bimbang ditanggalkan. Dahulu, aku pernah be...